Langsung ke konten utama

"Tikus "


sering saya berfikir mengapa di rumah kost saya ini banyak sekali tikusnya, dan apakah rumah yang sederetan dengan saya juga sama halnya dengan rumah yang ini. disebelah kanannya ada warung, disebelah kiri ada wartel dan rumah tetangga. yang pasti bentuk dan modelnya sama, hanya saja rumah yang kami tempati berlantai dua. dibandingkan rumah yang lainnya, rumah yang kami tempati ini agak sedikit berbeda, bukan dari bentuk tetapi dari yang lainnya lagi. rumah kami depannya masih polos dan sepertinya memang tetap setia dengan bata telanjangnya, pintunya yang lebih unik lagi, cuma di cat setengah itupun yang ngecat tetangga sebelah, yang di warung itu. ngecatnyapun tanpa permisi, ketika kami pada mudik pulang kampung saat lebaran puasa yang lalu, kalau ada kami pasti tidak kami ijinkan di cat setengah begitu, ngga bagus banget. biru lagi warnanya.
kembali kepersoalan tikus tadi, mungkin karena itu keluarga tikus itu betah tinggal disana, selain karena kami masih jomblo semua tentunya karena kami tidak pernah mengusik keberadaannya. terkadang menjengkelkan, apalagi kalau malam hari. sedang nyenyak-nyenyak tidur tiba-tiba harus terbangun karena suara berisik yan ditimbulkan oleh gerombolan tikus tersebut. anehnya ketika kita bangun dia diam, ketika kita tidur kembali dia pun berulah lagi. perlakuannya pasti akan berbeda bila dirumah keluarga, mereka pasti akan memburu tikus-tikus itu sampai mereka lelah sendiri. karena mereka takut perabotan rumah tangganya dirusak. sebenarnya kamipun tidak menginginkan tikus itu ada dirumah, kalau bisa pergi saja mereka ke negeri antah barantah. tetapi kami berbaik hati membiarkannya menetap disana, tepatnya kami tidak peduli apa yang mereka kerjakan. kadang geram juga melihat ulah mereka yang seenaknya, mengerat apa saja, termasuk toples kue yang lupa disimpan di lemari. tetapi lagi-lagi cukup dengan mengelus dada dan mendumel didalam hati, ini disebabkan karena teori yang kami dapatkan secara turun temurun dari mulut ke mulut, bahwasannya tidak boleh sembarangan mengatakan tikus. nanti tambah jahat katanya. tapi, ini adalah jenis tikus yang besar-besar, jangankan kucing, manusia aja takut dibuatnya. apalagi kalau mereka tengah reunian, berisiknya minta ampun.
kalau dipikir-pikir kenapa tikusnya semakin banyak saja, bisa jadi karena didaerah sekitar hampir tidak ada lagi sawah yang kosong yang dulunya tempat bermukim para tikus itu. semuanya telah berubah menjadi bangunan rumah yang besar-besar dan para tikus itu mau tidak mau harus mengungsi ke tempat yang lebih aman, salah satunya ya ke kost kami ini. anehnya, mereka itu udah ngungsi tapi kok terkesan seperti rumah sendiri, makan sabun mandi sembarangan, ini sih teman saya yang ngalamin, waktuitu dia lagi pulang kekampung. setelah itu dia pakai sabun cair sampai sekarang. belum lagi ulahnya yang bikin sebel karena ngga tahu malu, suka ngagetin. pas kebetulan kita sedang santai tanpa malu dia lewat dari tepi dinding, dengan gaya sok selebritis sedikit, menggal menggol seolah sambil berkata...ayoo kejar aku...sekali lagi hanya bisa menghela nafas.
itulah tikus, binatang yang menjijikkan dengan postur tubuh tak begitu indah, ekornya panjang kecil, tubuhnya agak bulat dan bulunya berwarna kotor....tapi kumisnya kadang terlihat lucu juga, suka memakan apa saja, bahkan dia lebih buas dari harimau karena bukan hanya makan sayur dan daging juga tapi juga kain dan papan. tikus tidak peduli dirumahorang kaya maupun orang miskin, yang dia tahu adalah mengembat apa saja, tak peduli sedikit atau banyak. barangkali karena itulah koruptor diserupakan dengan tikus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.