Langsung ke konten utama

"Lukisan Negeri Angin"


sesekali bila punya waktu luang mampirlah ke negeri antah barantah, konon katanya di negeri itu uang bertaburan. disetiap lorong dan gang sempit katanya ada uang berceceran, mungkin serupa dengan anai-anai yang diterbangkan oleh angin. tak heran jika kemudian orang-orang dari negeri lain berduyun-duyun datang ke negeri antah barantah untuk mencari uang tersebut. siapa yang tidak tergiur mendengar uang yang demikian banyaknya. seperti orang yang melihat hidangan kambing guling saja layaknya, air liurnya yang tidak hanyalah tumpah. orang-orang pun berdatangan ke negeri tersebut, alangkah tercengangnya mereka. ini negeri antah barantah apa kerajaan putih pikirnya. maklum di negeri tersebut orang-orang berkulit putih sangat banyak. di pasar-pasar mereka sangat mudah ditemui, kalau mau sedikit bersusah payah datanglah ke pantai bila sore hari, pasti anda akan merasa seperti di bali atau dihawaii, itukarena sangat banyak orang-orang berkulit putih dan berambut merah disana, di negeri antah barantah itu di kenal dengan sebutan bulee. padahal dalam bahasa negeri antah barantah bulee adalah bulu atau rambut-rambut halus yang tumbuh dibadan.
hari-hari pertama kedatangannya orang orang melakukan city exploration terlebih dahulu, ia berkeliling kota, sekedar melihat-lihat. karena negeri ini satu setengah tahun yang lalu baru saja ditimpa musibah besar. orang- orang menyebutnya dengan Tsunami, ada yang mengatakan ie raya dan ie buena. tapi lebih populer tsunami. kondisinya jauh lebih baik sekarang, pikir orang itu. setidaknya sudah tidak ada mayat bergelimpangan seperti beberapa hari setelah tsunami. sampah-sampahpun sudah bersih, persis seprti tidak pernah terjadi apa-apa. layaknya turis iapun tak ketinggalan memotret-motret apa saja yang bisa diperlihatkan pada saudaranya yang lain di negeri asalnya. besoknya ia berkesempatan untuk datang ke rumah hunian sementara, masih dengan gaya wisatawannya ia melongok-longok, sesekali bercengkerama dengan pengungsi. kecil sekali rumahnya, pikirnya. apa mereka betah, pikirnya lagi sambil tersenyum pada seorang bocah yang kemudian diketahui bernama alihun. "ini lumayan mister" kata anak kecil tersebut. ups..."turis" tersebut nyengir. dalam hati ia berkata, apa anak ini ngga lihat kalau aku hitam begini, rambutkupun tidak merah melainkan hitam tak terawat, lha kok dipanggil mister batinnya. "ada yang masih tinggal dibarak dan kondisinya menyedihkan sekali" sambung si alihun. orang tersebut cuma mengangguk-ngangguk.
kini sampailah orang tersebut pada salah satu tempat penampungan yang paling besar, kondisinya benar-benar tidak seperti yang ia bayangkan. semrawut, tidak terurus dan baraknya benar-benar tidak layak pakai pikirnya. dinding baraknya ada yang dari papan bekas dan sudah lapuk, ada yang disampuri dengan tenda dan kardus. wah...orang itu katakanlah namanya sapto, terhuyung-huyung bukan karena pusing, tapi membayangkan kalau saja dia yang tinggal disini selama setengah tahunan...mungkin ia sudah jadi gila fikirnya. rumah kecil sementara penghuninya banyak, ibu, anak cucu dan kakek tinggal disitu, wah..benar-benar gawat pikirnya.
lalu terbayanglah sapto pada apa yang dibicarakan oleh orang-orang, katanya dinegeri antah barantah ini uang bertaburan seperti anai-anai. bahkan semua mata dunia tertuju kenegeri ini untuk membantu tentunya bukan dengan uang yang sedikit, bermilyar-milyar jumlahnya. mungkin kalau diumpamaka dengan tanah bisa untuk menimbun hektaran sawah pikir sapto. tapi kok ya masih ada barak yang tidak layak huni seperti ini? lagi-lagi ia geleng-geleng kepala. bahkan ada rumah yang belum dihuni sudah rusak duluan, material bangunannya tidak sempurna, mungkin kwalitas n0 sepatu pikirnya lagi. lalu, untuk apa lembaga besar yang ditunjuk pemerintah untuk me rehab dan rekon negeri antah barantah ini? pikir sapto sedikit retoris. gaji mereka besar, fasilitas lengkap. tapi kok ngurusi yang beginian ngga becus. belum lagi rumah-rumah yang dibangun di dekat laut, kalau pasang sudah pasti air masuk. beginilah jadi orang kecil, tidak bisa mengelabui orang besar. apa yang diberi ya diterima saja, kalau tidak suka ya tidak usah diambil dengan syarat dilarang protes. lalu...wajar saja jika kemudian ada anak yang berkali-kali meminta pindah dari barak yang ditanggapi dengan dingin oleh orang tuanya. belum lagi penyelewengan dana oleh lembaga-lembaga yang tidak bertanggung jawab, proyek yang asal jadi. uh..baru tiga hari sapto di negeri ini dia sudah tidak kerasan, tidak kerasan melihat penindasan tak bernama kepada wong cilik, mereka seprti dipermainkan oleh tangan-tangan besar pegnuasa. tapi...satu hal yang membuat sapto kagum, orang-orang di negeri antah barantah ini tak pernah hilang semangat, dan warung kopi tak pernah sepi.
negeri antah barantah ini layaknya surga bagi para pembesar-pembesar. tempat mereka mengeruk uang yang bertaburan dimana-mana. hitung saja gaji mereka, tidak perlu kalkulator cukup dengan jari saja. di negeri antah barantah ini ada negeri lain yang disebut dengan negeri angin, negeri yang makmur, fasilitas terpenuhi dan segala keinginan terwujud. tapi hanya untuk emreka-mereka yang duduk disinggasana dengan alasan mengurus urusan rakyat. yang setiap hari rapat dan rapat akhirnya kerapatan, setiap hari makan di restoran mahal dengan jamuan istimewa sementara rakyat cukplah dengan indomi atau sarden yang mungkin sebentar lagi akan kadaluarsa. setiap hri tidur enak dikasur empuk, naik mobil mewah dan diakhir bulan dapat gaji yang gedenya seberat batu nisa. kata rakyat, inilah negeri angin yang tumbuh dari negeri antah barantah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.