Langsung ke konten utama

"Persembahan dari burung kecil"

mempersiapkan sesuatu dengan waktu yang teramat singkat. bahkan tersingkat dari yang paling singkat selama perjalanan gejolak hati ini. ah, barangkali waktu sesekali memang ingin memberikan kejutan kepada burung kecil ini, kejutan-kejutan kecil yang membuatku serasa dipucak kenikmatan yang paling tinggi yang aku sendiri tidak tahu apa namanya, tepatnya tidak ingin memberinya nama. biarkan saja semuanya menjadi misteri dan selamanya begitu, karena dalam kemisterian itulah terkadang kenikmatan akan semakin jelas sempurna. tak usahlah terlalu cerewet dengan bertanya siapa, apa, dimana dan akan kemana. biarkan semuanya terjawab satu-satu seperti semalam. terjawab satu-satu. dan, sekali lagi terjawab satu-satu.
mungkin setengah sadar ketika aku meminta pengulangan itu, dan setengah sadar pula ketika aku mengatakan akan ada sesuatu satu jam lagi, dengannya aku seolah-olah seperti berjanji pada diriku sendiri, yang aku sendiri menjadi terbeban karenanya dan mau tidak mau harus kupenuhi. lagi-lagi kujalani saja sama seperti dia yang menyelesaikan sarapan paginya dengan sangat sederhana sekali, hanya segelas teh hangat dan tiga potong tempe. biasanya orang-orang klau sarapan harus empat sehat lima sempurna, ada susu, ada roti, ada nasi lengkap dengan lauk-pauknya. ah...akupun tak melakukannya pagi ini, sama seperti pagi-pagi yang telah lalu. sedikt perbedaan pagi ini aku sama sekali tak merasa lapar karena aku masih belum ingin turun dari puncak nikmat itu.
tolong, untuk sesaat ini jangan memintaku untuk memberimu bonus karena waktu yang telah lebih sedikit itu. aku sedang berusaha merampungkannya di sela-sela pusingku, untuk kau ketahui saja, badanku masih belum sempurna betul rasanya. itu karena semalam yang ketiga kalinya aku tertidur dilantai karena kehadiranmu. jadilah tadi selepas subuh aku mengenggelamkan kembali tubuhku ke tempat kecil dimana aku menggeliat biasanya. itupun diselingi oleh pesan-pesan dengan seribu makna yang terkatakan dengan kedalaman rasa dan hasrat yang menggebu. setelah ini, aku menyerahkan semuanya kepadamu. selamat menikmati persembahan kecil dari burung kecil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.