Langsung ke konten utama

"Nah"

setiap orang pasti mempunyai ciri khas tersendiri, entah itu terletak pada kebiasaannya, pada perbuatannya, pada perkataannya maupun pada kegemarannya yang lain semisal dia hobby masak atau tidur, hobby bercanda dan lain sebagainya. karena ciri khas yang melekat itulah akhirnya dia menjadi mudah diingat dan susah dilupakan.
awalnya, saya tidak begitu perhatian dengan saudara yang satu ini, dia terbilang unik menurut saya karena beberapa hal sampai-sampai di hand phone saya namai dengan unique, bukan, bukan karena saya tidak tahu siapa namanya tapi yaitu tadi karena dia unik (maaf bila tidak berkenan dihati).
sekali dua kali berinteraksi semuanya masih biasa-biasa saja, tetapi karena intensitasnya makin sering akhirnya saya menjadi semcam kewajiban untuk menunggu-nunggu kapan kata itu diucapkan oleh teman saya itu. dan yang diucapkan kemarin sore sepertinya sangat berbekas sekali dibenak saya hingga lahirlah tulisan ini.
"Nah...". teman saya ini sering sekali mengatakan "nah..." saya tergelitik mendengarnya, terbayang dibenak saya ketika dia mengatakan "nah..." mulutnya sedikit terbuka dengan dilapisi senyum simpul, matanya berkedip-kedip jenaka sambil mengatakan "nah...". heheh..kalau yang ini sih imajinasi saya, saya sampai mempraktekkanya sendiri ketika menuliskan ini. padahal bisa saja ketika mengatakan "nah..." dia sedang tidak tersnyum atau cemberut karena pekerjaannya, tidak, bukan, tepatnya karena dongkol dan kesal kepad saya yang telah membuatnya hampir pingsan karena bumi berputar. oh...teman seperti apa saya ini ya? gara-gara saya dia harus bersilaturrahmi ke dokter untuk memeriksakan tensi darahnya. kalau saja waktu itu tensi darahnya rendah, sepulang dari dokter pastilah dia harus membeli daging kambing atau salak untuk menaikkan tensi darahnya, sebaliknya kalau darahnya rendah tetap saja harus mengkonsumsi makanan lain agar normal kembali. intinya sama saja, tinggi atau rendahnya tensi darahnya teman saya itu tetap harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tentunya. rugi? dan itu karena saya? entahlah...tapi yang pasti kalaupun harus disuruh bertanggung jawab maka yang lebih berhak bertanggung jawab adalah tulisan saya. karena teman saya itu begitu karena mengenang tulisan saya, ini buktinya, -tadi malam saya merasakan bumi seperti berputar kencang sekali, saya hampir hilang keseimbangan mengenang kalimat anda-.
begini saja, kalau dongkol saya persilahkan kepada teman saya itu untuk membunuh tulisan saya, menonjok hingga dia tak sadar lagi,t erserah..sesuka hatinya saja. saya tidak marah. kalau gara-gara itu tensi darahnya kembali naik dan terjadi sesuatupadanya, mungkin saat itulah penulis telah berhasil menjadi pembunuh karena apa yang dia tuliskan.
kembali ke "nah..." saya sering memeprhatikannya, tepatnya menunggu-nunggu kalimat berikutnya setelah "nah" tetapi tidak pernah ada, selalu saja berhenti sampai di "nah...". saya tidak tahu apakah setelah teman saya itu membaca tulisan ini dia akan tetap mempertahankan 'nah...'nya atau menhilangkannya, tapi kalaupun dihilangkan karena membaca tulisan ini, tentu bukan saya yang salah tetapi ya tulisan saya, nah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.