Langsung ke konten utama

"Menunggu"

sudah pukul 19:11 menit ketika saya menuliskan tulisan ini, harusnya jam segini saya sudah berada dirumah. atau paling telat tidak berada lagi ditempat ini, sepi banget. yang lain sudah pada pergi. tinggal saya sendiri. padahal hari ini saya sangat lelah, karena kurang tidur semalam. syukurlah hari ini ada seorang teman yang bisa diajak ngobrol dari hati kehati sehingga kelelahan itu tidak begitu terasa ( untuk ichie: tumben hari ini baik), namun keletihan itu tetap terasa, setidaknya sekarang ketika sudah waktunya pulang tetapi teman yang ditunggu-tunggu belum juga tiba. semoga tidak ada apa-apa dengannya. khawatir juga sih, sudah ditelfon tapi hand phonenya tidak aktif, di sms juga masih pending sampai sekarang, mungkin juga sampai besok pagi.
sampai pukul berapa saya harus menunggu? padahal tubuh sudah minta diistirahatkan, kalaupun tidak langsung tidur palign tidak rebahanlah untuk melempangkan otot-otot...maklum sudah seharian duduk terus, pegel. saya juga sudah rindu dengan kamar saya yang ditinggal sejak kemarin sore, semoga malam ini bisa bernostalgia. dan semoga kejadian serupa ini tidak terulang dihari yang lain. padahal hari ini sudah direncanakan untuk pulang lebih awal dari biasanya, seorang teman mengajak pergi kepantai sore harinya, sekedar untuk melihat-lihat keramaian. untuk melengkapi agenda diakhir pekan ini, minggu dan juga bulan juli ini. tetapi apa daya, ajakan tinggal ajakan, kata-kata 'iya' pun telah terlalui dengan begitu saja, mungkin harus menunggu waktu lain yang tepat untuk menambal apa yang terjadi dihari ini.
malam ini agak sedikit mendung, hujan tadi siang rupanya masih menyimpan sedikit dendamnya, sehingga ia tak mau berlama-lama melepaskan pelukannya ke bumi. ada yang kusesali, sedikit kecewa mungkin. kenapa kebekuan justru terjadi dimalam ini. padahal rindu telah mendekapku dengan sangat kuat sejak beberapa hari yang lalu. saking eratnya aku merasa seperti kehabisan nafas dan tersengal-sengal. tapi tidak apa...mungkin dia perlu berfikir dan beristirahat, aku mengerti kelelahannya, keletihannya, barangkali lebih dari apa yang kurasakan sekarang ini. aku merasakan ingin tidur, melempangkan tubuhku keranjang dan membiarkannya tanpa siksaan apa-apa. aku yakin, dia juga begitu. karena itu kubiarkan saja dia menutup "pintu kamar"nya. tanpa ada perintah maupun paksaan untuk tetap menemaniku.
entah kenapa, kemanjaan itu begitu meledak-ledak dalam beberapa hari ini. aku ingin dia memanjaiku lebih dari biasanya. lebih erat dan lebih kuat lagi. aku pun begitu, tapi kadang-kadang ketika bertemu hanya diam. aneh memang. tapi disanalah keunikan dari apa yang kurasakan. ketika harus pura-pura marah padahal sebenarnya ingin tertawa sekuat-kuatnya. ketika ingin menangis justru tidak bisa karena rayuannya yang membuat hati ingin tergelak. romansa jiwa. yang terkadang diri sendiripun tidak bisa memaknainya.
sudah pukul 20.00
saatnya pulang, dan memotong leher tulisan ini dengan paksa. dan teman saya belum muncul juga...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.