Langsung ke konten utama

"Sudah Kubawa"

kembali aku teringat akan puisi "ibu" yang dikirimkan oleh seseorang kepadaku, tetapi aku tidak mampu lagi mengeja kalimatnya sehingga tersusun dengan utuh. hanya makna tersiratnya saja yang masih teringiang-ngiang diti benakku. dan Subhanallah mampu menetralisir adrenalin ku yang sempat dibaluri emosi sesaat yang lalu. kupikir dimalam yang dingin dan basah ini aku tidak akan melanjutkan menulisku lagi karena emosi tersebut.
seseorang entah siapa malam ini telah mempermainkan ku dengan tidak bertanggung jawab dan dengan cara yang sangat murahan sekali, syukurlah aku masih bisa menahan diri untuk tidak memakinya dan itu memang bukan kebiasaanku, meski teramat sangat marah. keburukan tidak harus dibalas dengan keburukan, bukankah begitu? semoga saja seseorang itu paham dengan sedikit petuahku diakhir cerita. bukan hanya membuat selera menulisku hilang tetapi juga telah memotong imajinasiku dengan paksa. syukurlah puisi "ibu"menjadi inspirator untuk ku, terimakasih kepada seseorang yang telah mengirimkan puisi tersebut.
lagi-lagi, aku mendapatkan keajaiban pada malam-malam ku. pada malam-malam yang mungkin dilalui orang dengan tidur yang nyenyak dan dengan mimpi yang indah. aku...menjadi tidak ingin meninggalkan kamarku walau sedetik, karena semua cinta dengan segala keajaibannya bermuara dari sana. semua bagian dari misteri terkuak pelan-pelan dari kamarku, seperti hari ini misalnya, aku meninggalkan kamarku dengan sangt berantakan sekali, dengan selimut dan bantal dilantai, dengan kulit jeruk yang terletak disudut pintu. tunggu, jangan berfikir kalau aku malas merapikannya, bukan, bahkan sejak subuh aku sudah bangun dan sudah membereskan pekerjaan ku yang lain, kecuali merapikan kamar tidurku. aku sengaja melakukannya. karena aku masih belum ingin melupakan apa yang terjadi dikamarku semalam. aku sangat menikmatinya dan menginginkannya lagi, tapi sayang mulai nanti malam aku ahrus meninggalkan kamarku lagi. karena itu aku tidak merapikannya pagi ini, agar ketika aku pulang sore nanti aku bisa menangkap kembali apa yang terjadi semalam, memeluknya dalam pelukanku dan ia menangis disana, mengadu galaunya dan menceritakan gelisahnya.
ah, andai saja dia tahu, bahkan jauh sebelum dia memintaku untuk membawanya kemanapun aku pergi itu sudah lebih dulu kulakukan. hanya saja aku tidak memberi tahunya, aku tidk perlu mengatakannya aku takut dia besar kepala nanti. beginikah menjadi burung kecil? menjadi pak pos bagi orang-orang yang ingin menyampaikan pesan cinta? ah, andai hatiku ada seribu kamar ingin rasanya aku mengajak semua orang untuk tinggal disana, memberikan mereka cinta dan sayang dengan takaran yang sama tapi itu adalah kemustahilan. ingin membahagiakan semua orang dengan takaran yang sama, bukankah itu sangat tidak mungkin? karena mencintai berarti juga totalitas dalam memberi. apapun, satu yang ingin aku sampaikan melalui ini, aku ingin ketika dia menangis lagi, akulah orang pertama yang menyandarkan bahunya ke dadaku, merasakan getaranjiwanya ketika ia terguncang dan mungkin merasai air matanya yang hangat. sejatinya begini, kalau ingin menangis, menangislah dipangkuanku, jangan pernah merasa malu dan rendah diri karena menangis. aku lebih suka kamu apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, sudah mau menjadi bagian dari misteri hidupku saja sudah cukup dan aku menyukai semua itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.