Langsung ke konten utama

"Siluet Bayang Diri"


lihatlah siluet itu, anggap saja bayangan itu adalah aku. tergugu aku pada riak-riak air yang bergelombang, menikmati keindahan lukisan cakrawala pada senja yang merona menjingga, persis seperti gadis yang malu karena digoda. mukanyapun bersemu merah. adalagi seperti bongkahan emas ketika panas menyala memantul dari belahan langit sore. anggaplah itu aku, yang sedang menunggu keajaiban agar kilauan itu benar-benar berubah menjadi bongkahan emas, lalu aku memungutnya dan aku menjadi kaya raya. lalu lihatlah lagi. bagaimana aku terduduk termenung. melihat ikan-ikan yang berenang di danau. bersenda gurau tak ada beban seperti yang aku rasakan. sekali waktu aku coba berenang, mencoba menjadi seperti ikan. berlari kesana kemari menghilangkan gundah gulana yang ada di hati ini. terlalu banyak persoalan hidup yang tidak sanggup ditampung oleh cangkang kepalaku yang tidak terlalu besar ini, persoalan anak istri, persoalan gaji yang tak juga naik-naik padahal aku sering bekerja hingga larut malam, persoalan uang sekolah anak-anak dan kebutuhan istri yang semakin hari semakin banyak saja, lipstiknya, bedaknya, belum lagi yang aku tak tahu namanya, sangat banyak. kalau aku tidak memenuhinya maka istriku akan mencemberutiku berlama-lama, makanpun tak ditemani. sampai-sampai aku lupa pada kebutuhanku sendiri, ah, laki-laki memang tidak banyak kebutuhannya tidak seperti perempuan. laki-laki tidak memerlukan perhiasan, kosmetik dan baju warna-warni, sykurlah aku masih belum lupa untuk mencukur cmbangku dengan rapi setiap minggunya, memangkas rambutku bila sudah mulai panjang, dan tentunya tidak lupa mandi sehari minimal dua kali, pagi dn sore, jika semua itu aku lupakan mungkin istriku akan meninggalkanku.

lihat sekali lagi siluet itu. anggap saja itu aku. yang tengah tergugu di depan rumah sederhanaku, anak dan istriku sudah tidur sedari tadi, aku juga sudah mencoba tidur tapi kepalaku begitu pusing dan nyut-nyutan. jadilah aku keluar saja, tergugu di teras kecil ini. ada kembang mawar merah yang ditanam istriku, bunganya masih kuncup dan segar karena dirawat dengan baik. ingin sekali aku membahagiakan anak dan istriku, tapi aku belum mampu melakukan semuanya. bahkan pada saat-saat istimewa seperti malam ini. seingatku malam ini adalah malam ulang tahun perkawinan kami yang ke lima, entah istriku ingat entah tidak. tapi mungkin saja tidak. kalau ingat untuk apa dia tidur sejak awal, padahal biasanya dia tidak begitu.
aku bercermin pada ketenangan air, sehingga itu aku masih bertahan untuk tetap sabar sampai sekarang. tuntutan istriku sangat banyak sekali, beli rumah, mobil baru dan segala pernak-pernik rumah tangga lainnya. kalau saja aku menikahinya bukan karena cinta mungkin sudah kutinggal dia, cinta memang hebat. sebagaimana air, dia memang tenang tetapi sesekali ia bisa marah dan meluap begitupun aku. tadi aku memarahinya, mungkin karena itu juga dia cepat tidurnya. ah..istriku maafkan suamimu yang tidak tahu berterimakasih ini. bukan maksudku untuk memarahimu apalagi dengan persoalan yang sangat sepele. cuma karena kamu masak nasi agak lembek dari biasanya. sangat naif sekali bukan?
tapi aku ingin kamu mengerti, urusan dikantorku sangat banyak. bertumpuk-tumpuk, itulah yang membuatku sering terlambat pulang akhir-akhir ini. aku tahu kalau kamu kurang percaya dengan alasanku, tapi percayalah aku tidak akan menghianati cinta tulusmu. aku tahu dirumah kamu tidak cuma bersantai ria, dengan tiga anak kita yang nakal-nakal itu saja sudah cukup membuatmu pusing, belum lagi urusan rumah tangga lainnya, mulai dari memasak, mengepel, mencuci baju hingga membersihkan rumah. dan tak lupa menyiapkan segelas juice mangga kesukaanku setiap kali aku pulang kerja. wajar saja jika kmu ingin aku lebih memperhatikanmu.

kalau saja yang dalam siluet itu benar-benar aku, pasti seperti itulah bingungku malam ini. duduk terdiam dan pikiran mengambang. tetapi bukan dengan menyesali semua ini. menatap bulan dan bintang yang gemerlipan, disanalah hiburan hati, menakjubi kebesaran illahi yang telah mengantarku menjadi seorang suami, punya istri dan anak. istriku, ijinkan aku memetik mawarmu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.