Langsung ke konten utama

"Bunga di depan Rumah"


saya sering bertanya-tanya mengapa bunga-bunga didepan rumah saya tidak cantik lagi, tidak elok lagi, tidak sesegar ketika didepan rumah yang dulu. dirumah yang dulu, yang terpaksa dibongkar dengan air mata dan rasa tidak ikhlas demi mendapatkan kenyamanan dan kelayakan untuk hidup. megnapa dirumah yang ini, bunga secantik dan seindah dirumah yang dulu menjadi layu dan tidak bergairah untuk terus hidup, sekalipun bunga jenis asoka yang terkenal daya tahannya. dirumah yang dulu, bunga asoka itu diletakkan begitu saja bisa tumbuh dengan cantik, bunganya macam-macam, ada kuning, merah, merah jambu sampai putih, kuningpun ada kuning muda dan kuning tua. belum lagi bunga-bunga yang lain yang indah-indah dan beraneka warna. pokoknya, dulu cuma rumah saya yang banyak bunganya, sekarngpun begitu, tetapi kondisinya berbeda dan membuat ibu saya jadi berkurang selera untuk mengurus bunga-bunga itu. padahal sebagian bunga yang ada dirumah sekarang adalah warisan dari rumah yang dulu, rumah yang teduh dan strategis letaknya, tidak seperti sekarang, kurang strategis.
akhirnya, keheranan saya dan ibu saya terjawab, tidak seperti dirumah yang dulu, dirumah yang sekarang tanahnya kering dan tidak bagus, sejenis tanah liat, keras. wajar saja kalau ditanami bunga akarnya tidak bisa tumbuh dengan sempurna. selain itu, dirumah yang sekarang sangat panas karena langusng berhadapan dengan matahari...kalau sore panasnya luar biasa sekali, tapi didalam adem, anginnya sepoi-sepoi karena rumahnya terletak di tengah sawah, angin berlalu lalang sesuka hatinya. kasian melihat bunga-bunga yang dulunya bagus jadi mati sekarang, bunga-bunga kesayangan ibu akhirnya diletakkan disumur belakang, agar lebih dingin dan tidak langusng berciuman dengan matahari. rasanya belum lengkap penderitan bunga-bunga ini, sudah terkena panas dan tempat tanam yang tidak bagus sekarang malah harus relah kena gusur karena timbunan tanah. eh...akhir-akhir ini malah lebih parah lagi penderitaanya, setiap hari harus berkelonan dengan siduri sawit. pulang kemarin aku cuma melihat pohon cemara salju yang masih kokoh ditempatnya, sedangkan asparagas dan bunga asoka kuning sudah meregang nyawa dan tidak berbekas lagi. kasian bunga-bunga itu...
padahal, kalau dilihat dari perawatan, bunga-bunga dirumah ini sangatlah ekstra dibandingkan dirumah yang dulu, seperti bayi saja layaknya. tetapi tetap saja tidak sebagus dirumah yang dulu. kalau dibilang kurang kasih sayang, rasanya tidak. tapi memang tanah disini tidak sesubur ditempat yang dulu. karena itu, sampai sekarang saya belum bisa melupakan rumah yang dulu, yang bunga-bunganya masih tersisa sampai sekarang, dan masih bagus walaupun disekelilingnya ditumbuhi ialang dan semak-semak, maklum, sudah jadi bangkai rumah. mungkin sudah nasib bunga-bunga dirumah ini, harus setia dijodohkan dengan tandan-tandan sawit yang tidak sepadan dengannya. walau bagaimanapun, dia juga harus tahu kalau pemilik rumah ini harus mencari makan untuk meneruskan kelangusngan hidupnya dari tandan sawit yang menurutnya tidak pantas menjadi temannya hidupnya.
bagimanapun, bukan keinginan kami untuk menelantarkan bunga-bunga itu, hanya saja sepertinya nasib baik kurang berpihak padanya. manusia juga banyak yang seperti itu...sudahsekolahtinggi-tinggi...kadang cuma jadi pengamen....apalagi bunga yang tidak bisa pindah sendiri mencari tempat yang layak huni bagi dirinya sendiri...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.