"Berantakan juga perlu"

yang akan saya ceritakan disini adalah pengalaman saya sendiri, barangkali anda juga pernah melakukannya. terlepas dari apa yang akan saya katakan, anda semua pasti punya alasan yang berbeda. beberapa waktu yang lalu saya malas sekali bangun pagi, bahkan dalam tidurpun sempat berdoa agar waktu berhenti sejenak supaya tidak cepat-cepat pagi. tepatnya tidak cepat-cepat bangun pagi dan berangkat menjalankan rutinitas seperti biasa. saya tidur dilantai, dengan posisi bantal yang tidak beraturan, selimut juga sudah tidak berbentuk lagi, saya bukan orang yang setia dengan selimut jika tidur malam, didekat saya beberapa buah buku bacaan dan buku tulis tergeletak sama tidak beraturannya seperti saya. ada pulpen, ada kertas dan beberapa buah jeruk. berantakan sekalikamar saya waktu itu. tetapi saya biarkan.
akhirnya saya pergi dengan meninggalkan kondisi kamar yang sangat berantakan, bukan karena tidak sempat membereskannya, tetapi karena faktor kesengajaan. berbeda dengan hari sebelumnya, hari itu saya menjalani rutinitas saya dengan porsi kenikmatan yang lebih, saya membayangkan kondisi kamar saya yang berantakan, darinya saya membayangkan apa yang saya lakukan semalam, dan saya puas. maka kepuasan itu ikut memberikan energi lebih untuk saya pada siang harinya. pun ketika pulang sore harinya, tubuh saya lelah sekali, capek dan letih. padahal saya belum mempersiapkan apa-apa yang perlu dipersiapkan untuk keberangkatan saya pada malam harinya. bayangkan saya pulang sampai kerumah pukul tujuh malam, padahal saya harus berangkat pukul delapan malam, sedangkan tiket belum saya pesan....tetapi..semuanya lenyap ketika pulang mendapatkan kamar berantakan. terkenang kembali peristiwa semalam, saya kembali memeluk bantal dan selimut yang masih dilantai. bahagia rasanya. jadi ingin menangis lagi seperti semalam, ajaib, lelah itu itu hilang...

Komentar