Langsung ke konten utama

"Berantakan juga perlu"

yang akan saya ceritakan disini adalah pengalaman saya sendiri, barangkali anda juga pernah melakukannya. terlepas dari apa yang akan saya katakan, anda semua pasti punya alasan yang berbeda. beberapa waktu yang lalu saya malas sekali bangun pagi, bahkan dalam tidurpun sempat berdoa agar waktu berhenti sejenak supaya tidak cepat-cepat pagi. tepatnya tidak cepat-cepat bangun pagi dan berangkat menjalankan rutinitas seperti biasa. saya tidur dilantai, dengan posisi bantal yang tidak beraturan, selimut juga sudah tidak berbentuk lagi, saya bukan orang yang setia dengan selimut jika tidur malam, didekat saya beberapa buah buku bacaan dan buku tulis tergeletak sama tidak beraturannya seperti saya. ada pulpen, ada kertas dan beberapa buah jeruk. berantakan sekalikamar saya waktu itu. tetapi saya biarkan.
akhirnya saya pergi dengan meninggalkan kondisi kamar yang sangat berantakan, bukan karena tidak sempat membereskannya, tetapi karena faktor kesengajaan. berbeda dengan hari sebelumnya, hari itu saya menjalani rutinitas saya dengan porsi kenikmatan yang lebih, saya membayangkan kondisi kamar saya yang berantakan, darinya saya membayangkan apa yang saya lakukan semalam, dan saya puas. maka kepuasan itu ikut memberikan energi lebih untuk saya pada siang harinya. pun ketika pulang sore harinya, tubuh saya lelah sekali, capek dan letih. padahal saya belum mempersiapkan apa-apa yang perlu dipersiapkan untuk keberangkatan saya pada malam harinya. bayangkan saya pulang sampai kerumah pukul tujuh malam, padahal saya harus berangkat pukul delapan malam, sedangkan tiket belum saya pesan....tetapi..semuanya lenyap ketika pulang mendapatkan kamar berantakan. terkenang kembali peristiwa semalam, saya kembali memeluk bantal dan selimut yang masih dilantai. bahagia rasanya. jadi ingin menangis lagi seperti semalam, ajaib, lelah itu itu hilang...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.