Langsung ke konten utama

"aku"



aku adalah seorang ibu dari anak-anak ku yang berjumlah dua belas orang, yang setiap hari berebutan untuk minta kupangku. tentu tidak semuanya karena sebagiannya sudah besar-besar. tetapi tetap saja memerlukan perhatianku. bangun tidur, menanak nasi, menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak-anak, menyiapkan pakian sekolah anak-anak dan juga pakaian untuk suami berangkat kerja. selanjutnya memandikan tiga orang balita, kakak-kakaknya sudah bisa mandi sendiri, sudah bisa sarapan sendiri, hanya sesekali mereka minta dimanjakan, itupun kalau aku punya waktu luang. mereka terpaksa harus mengerti dengan kondisiku yang kadang kerepotan megnurus mereka semua. pernah mereka bertanya mengapa ibu punya banyak anak, sampai selusin, tidak seperti tetangga yang lain, paling banyak hanya 5. ku jawab seadanya saja, supaya kita tidak sama dengan orang lain, keluarga kita harus berbeda, dan yang pasti banyak anak banyak rejeki, ini tentu saja alasan yang paling terakhir ketika pertanyaan itu terus dilontarkan oleh anak-anakku. tetapi, memang belum pernah kami merasa kerepotan dalam membiayai kehidupan mereka, setidaknya sampai saat ini, mereka masih bisa menikmati sarapan dengan beberapa menu, tidur enak dan sesekali liburan, juga kebutuhan lainnya.
dilain sisi, aku juga seorang istri dari suamiku yang baik hati, yang membutuhkan perhatian dan sayangku, bukan hanya terhadap anak-anak saja. kadang-kadang dia cemburu juga melihat waktuku yang banyak kuhabiskan bersama anak-anak, tapi dia juga berusaha mengerti dengan meringankan pekerjaanku, maksudnya tentu saja agar aku cepat menyelesaikan tugas kerumah tanggaanku dan setelah itu aku bisa menemaninya minum teh atau baca koran di serambi belakang. tempat yang paling kami sukai sejak menikah 18 belas tahun yang lalu. kalau sudah disana, anak-anak sudah mengerti, mereka tidak akan mengganggu. disanalah aku memotong kukunya, mencandainya, meledeknya. ku akui, waktuku menjdi sangat berkurang untuknya, diapun mengetahui itu, karenanya dia tidak terlalu memaksa harus memanjakannya seperti awal-awal menikah dulu. tetapi aku tahu kapan harus menyanjungnya bagai raja, aku tahu kapan menjadikannya balita yang harus kupangku dan ku peluk, aku tahu kapan menjadikannya suami yang harus ku hormati dan ku patuhi, aku juga tahu kapan menjadikannya teman sehingga aku bebas leluasa bercerita. bercerita tentang anak-anak kami mulai dari yang paling tua sampai yang paling kecil, bercerita tentang cerita romansa perkawinan kami, kadang aku menangis dipelukannya, dan dia dengan sabar mendengarkan tangisanku, dilain waktu kadang dia yang menangis dipangkuanku, ketika ia menceritakan ketakutan-ketakutannya, dia sangat takut tidak bisa membawa keluarganya ke surga. aku membelainya dan menguatkan hatinya, kita bersama-sama cinta.......
sekali waktu dia pernah bertanya, apa aku menyesal telah menikah dengannya? saat itu aku takut sekali, takut, kupikir dia akan meninggalkanku. tetapi ternyata, katanya dia yang merasa takut ku tinggalkan, dan dia pasti tidak akan setelaten saya dalam merawat anak-anak. ada-ada saja suamiku....
suamiku...rasanya baru kemarin aku menjadi istrimu...betapa cinta telah menyingkatkan waktu kebersamaan kita...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.