Langsung ke konten utama

"Ku katakan sesuatu untuk mu"

persembahan untuk seseorang
jika saja aku diberi kesempatan untuk memilih dan memelihara dari sekian bunga yang ada ditaman hatiku, ijinkan aku memilih Melati saja dari sekian bunga-bunga yang lain. bukan aku ingin mengatakan mawar itu tak indah, atau kenanga itu tak harum karenanya aku tak memilih mereka. bukan, bukan karena itu. aku memilih Melati karena ada kebersahajaan dari kesederhanannya. bunga-bunga lain, menganggapnya tak istimewa barangkali, daunnya tidak terlalu bagus dan bungannya kecil, dia juga jarang dilihat orang karena pohonnya yang kecil. bunganya juga tidak warna-warni seperti bunga yang lain. tapi disanalah letak kekagumanku padanya, pada Melati yang menjelma dalam bayang-bayang mu. yang tidak pernah berubah meski hujan dan panas menerpamu, kau jarang dipetik oleh tangan-tangan jahat bukan karena kau tak elok, tapi karena mereka tak pintar melihat keanggunanmu. percayalah...kalaupun aku memilihmu bukan untuk memasungmu dalam kerangkeng besi hingga untuk bernafaspun kau kesulitan.
lihatlah pada kesakralan cinta, hanya kau yang ditebar, itu karena harummu tak terperikan, lihat pula, apa Mawar pernah bersanding denganmu untuk mensejajarkan kesederhanaannya? tidak. karena itu, kalaupun aku memilikimu tak lebih hanya untuk membuatmu merasa lebih berarti. tap pernah berniat untuk menyakiti atau menyiksamu.
aku ingin kita merasai hari bersama, merasai indahnya cakrawala bersama, merasai bahwa kita sama-sama berarti dan ingin selalu berarti. merasai mendung dan gelisah dalam geliat ritme yang teratur dan rapi, hanya itu yang kuingin, tidak lebih, apa salah jika kemudian aku ingin menaruhmu di salah satu ruang dihatiku yang tidak terlalu besar ini? yang sebagiannya telah terisi oleh asap dan polusi kota metropolitan ini. agar kau terhindar dari tangan-tangan jahil yang senantiasa ingin merusakmu? memetikmu lalu mencampakkkanya dalam semak-semak. dan aku, sesekali ikut merasai aromamu yang segar itu, itupun kalau kau mengijinkan. dan aku tidak pernah memaksa.

Komentar

  1. sesosok melati yang menjelma dalam keharumannya, kesederhanaannya bukankah identik dengan bunga pemakaman??
    mungkin memang dalam kesederhanaan melati akan hadir dalam sakral nya sebuah upacara.
    tertarik dengan bahasamu aku ingin mengirimkan sebuah puisi buatmu
    bagiku melati itu adalah sederhana dan bersahaja meskipun tak banyak yang mengidolakannya.
    Sekuntum melati putih jatuh ke pangkuan
    Tak memberikan makna berbeda
    Hanya mengingatkan pada dua upacara
    Kematian dan pernikahan
    Sekuntum melati jatuh ke pangkuan
    Dalam putihnya ia berduka
    Dalam putihnya ada cerita
    Cerita duka berbalut canda
    Cerita indah dalam balutan airmata
    Juga cerita indah berbalut duka.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…